Rabu, 08 Oktober 2014

Railfans

Railfans
Ya itulah kami, berawal dari hobi mencintai kereta api kini kami membentuk komunitas penggemar kereta atau kami biasa menyebutnya, Railfans. Memang, kata itu masih terdengar sangat asing di kebanyakan orang, kebanyakan orang menilai buat apa sih kereta doang difoto – foto, kaya gak pernah liat kereta aja alias norak, biarlah orang menilai apa adanya tapi itulah railfans. Menjadi Railfans itu adalah kegiatan yang menyenangkan karena dapat menambah teman dan hampir tiap dua minggu kami hunting  ( berburu kereta menggunakan kamera ) seperti yang dilakukan olehku dan beberapa teman Railfansku, seperti Dwiyan ,Aji, Nanda, Adi, dan Fachri kami berbeda sekolah tetapi kami selalu hunting bersama, pengalaman hunting yang paling berkesan adalah ketika kami pergi ke Purwakarta.

Kami berangkat dari rumah masing – masing sekitar pukul 06.30 karena kereta yang menuju ke Purwakarta berangkat pukul 08.50 dari Stasiun Jakarta Kota saya, Dwiyan, Aji dan Adi ketemuan di Stasiun Duren Kalibata untuk menuju ke Stasiun Jakarta Kota menggunakan KRL, kemudian kami turun sejenak di Stasiun Manggarai untuk ketemuan dengan Fachri yang berangkat dari Stasiun Pal Merah, setelah semua sudah lengkap kami segera menuju Jakarta Kota dengan naik KRL tapi sayang KRL yang kami naiki adalah kereta oven, kenapa disebut kereta oven ? keretanya sangat panas apalagi jika penumpangnya berjubel benar – benar seperti di dalam oven tapi maklumlah namanya juga KRL tua.

‘’Bro  harusnya tadi kita nunggu KRL yang satunya lagi aja, gila panas banget’’ kata Dwiyan sambil mengusap kringatnya, ‘’ ye elah udah biarin aja, dari pada ntar ketinggalan kereta di Jakarta Kota’’ kata saya sambil agak menggetak.

            Sesampainya di Stasiun Jakarta Kota tepatnya pukul 07.33 kami langsung membeli tiket KA Lokal Purwakarta, cukup dengan harga Rp 3.000 kita sudah dapat menikmati perjalanan dengan kereta kelas ekonomi ini ke Purwakarta selama 3 jam perjalanan, memang lama karena kereta ini berhenti di setiap Stasiun, waktu keberangkatan kereta masih lama jadi kami sempatkan untuk berkeliling Stasiun dulu sambil mengambil beberapa gambar lewat jepretan kamera, tiba-tiba ada PKD Stasiun yang mendatangi kami dengan muka yang penuh curiga dan agak kasar.
‘’Dek, sudah minta izin untuk foto-foto disini ?’’ kata PKD dengan suara yang tegas
‘’Belum pak kita penumpang KA Lokal, ini keretanya masih lama jadi kita numpang hunting dulu pak sambil nunggu kereta’’
‘’Bisa liat tiketnya ?’’ kemudian kami menyerahkan tiket kereta kami ke PKD itu untuk dilihat.
‘’Oh yaudah, lain kali kalo foto-foto disini minta izin dulu biar gak saya curigain’’ Kemudian PKD itu pergi dan kembali bertugas, untung kami tidak sampai dibawa ke ruang Kepala Stasiun karena dicap sebagai orang yang mencurigakan, tapi itulah satu dari resiko yang diterima saat hunting di kawasan Stasiun.

Jam menunjukan pukul 08.45 dan kami segara masuk ke dalam kereta, suasana kereta masih sepi dan adem, lima menit kemudian kereta mulai meninggalkan Stasiun Jakarta Kota, pukul 09.10 kereta tiba di Stasiun Kemayoran dan suasana kereta mulai terasa sumpek dengan banyaknya penumpang dan pedagang asongan serta beberapa pengamen yang naik, sebenarnya pedagang dan pengamen tidak boleh masuk ke dalam kereta tapi yaaaa….namanya juga kereta rakyat jadi siapa aja bisa masuk bahkan tanpa tiket. Saat kami sedang menikmati perjalanan kemudian sekelompok pengamen menuju ke arah kami, dengan suara ukulele yang khas ia menyanyikan sebuah lagu entah judulnya apa dengan suara agak serak, karena merasa terganggu dengan kehadiran pengamen itu kami memberikan uang 1000-2000 rupiah.

            Diperjalanan kami disuguhi suasana yang pengap bau penumpang dan para pedagang yang menawarkan dagangannya, kereta pun berhenti di Stasiun Klari selama 15 menit dan waktu 15 menit itu amatlah lama bagi sebuah kereta saat berhenti, ini dikarenakan kereta yang kami naiki harus mengalah atau disusul oleh kereta jarak jauh lainnya. Kereta Lokal mulai menggerakan rodanya lagi diatas rel  yang panas, 20 menit kemudian kereta sampai di Stasiun Cikampek kemudian kami pergi ke bordes kereta untuk mengambil gambar sejenak di Stasiun ini, 5 menit kemudian kereta berangkat lagi dan kami tetap bertahan di bordes sambil menikmati hembusan angin dari pintu kereta yang kami buka, sebenernya tidak boleh berada di bordes ini apa lagi sampai pintunya dibuka tapi ya karena ini kereta dengan pengamanan seadanya kami tetap nekat, sekitar 20 menit kemudian kereta akhirnya sampai di Stasiun Purwakarta, para penumpang sudah berada di bordes kereta untuk turun dari rangkaian, kereta belum berhenti dengan sempurna tetapi penumpang yang berada dibelakang saya sudah tak sabar mau turun alhasil kami terpaksa turun disaat kereta masih berjalan dan saya tidak berhasil mendarat dengan sempurna di peron stasiun sehingga saya terjatuh, malu rasanya sampe diliatin orang.

            Wah rasanya senang sekali bisa menginjakan kaki di Stasiun ini, awalnya kami ingin mengambil beberapa gambar dulu tapi mengingat kereta akan kembali ke Jakarta dalam 15 menit lagi kami bergegas ke loket untuk membeli tiket, setelah semua membeli tiket kami menunggu kereta berangkat sambil menyaksikan proses langsir lokomotif ( pemindahan lokomotif ), dan mengambil beberapa foto lewat jepretan kamera, ada yang menarik disini dan bisa dijadikan objek foto yang bagus yaitu beberapa rangkaian KRL dan kereta yang sudah tidak terpakai ditumpuk – tumpuk di depan Stasiun dan memang itu adalah objek foto yang ingin kami abadikan, sekitar 3 menit lagi kereta kembali ke Jakarta kami mencoba memastikan semua tiket sudah siap, tapi teman kami yang bernama Adi ternyata tiketnya belum diperiksa oleh petugas Stasiun.
‘’Woy di tiket lu belum periksa ?’’ kata saya sambil agak ngotot
‘’Oh iya gue lupa eh bentar gue ke sono dulu ya’’ kata Adi sambil agak panik
‘’Cepet woy bentar lagi mau berangkat’’
Tiba-tiba PPKA ( Pengatur Perjalanan Kereta Api ) menghampiri kereta dengan membawa Semboyan  40 ( tongkat untuk menandakan bahwa kereta siap berangkat ) suasana menjadi tambah panik, kami berusaha minta izin kepada PPKA untuk menahan sebentar.

‘’Pak teman kami masih tiketnya masih diperiksa, tahan bentar pak’’ kata Fachri
‘’Wah dek gak bisa ditahan lagi, kereta harus berangkat tepat sesuai jadwal’’.
Tak lama kemudian Adi datang sambil berlari dan langsung menghampiri kami
‘’Wah sorry ya untung cepet ‘’ sambil terengah – engah ia berbicara
‘’Iya – iya yaudah cepetan langsung naik’’ kata Aji sambil bernafas lega
PPKA kemudian membunyikan pluit semboyan 41 dan mengangkat semboyan 40 tanda kereta siap berangkat, dilanjut dengan masinis yang membunyikan S35 atau klakson panjang untuk merespon PPKA, yap sungguh hal yang membuat kami cukup panik.

Diperjalanan kami tertidur pulas dengan perut yang kosong dan suasana sumpek yang sama, kereta pun berhenti di Stasiun Tambun cukup lama. Tiba-tiba suasana berubah jadi menegangkan kembali, seorang penumpang kecopetan di dalam rangkaian dan si pecopet berhasil kabur dengan membawa satu buah dompet, penumpang yang lain awalnya mengejar si pencopet tapi karena larinya  yang cepat jadi tidak bisa tertangkap, kemudian kami dan penumpang lain memeriksa barang bawaan agar tidak terjadi hal yang sama.

‘’Noh de lu jangan hunting disini, udah gue bilang disini banyak copetnya’’ kata Dwiyan. Saya sejak dulu memang ingin mencoba hunting disini, tapi setelah melihat kejadian ini rasanya jadi ragu . Kereta kembali meneruskan perjalanan dan setibanya di Stasiun Pasar Senen kami turun dari Kereta dan menunggu KRL jurusan Bogor.
‘’Wah kapok gue ke Purwakarta, cuma bentar, keretanya pengap, ada copet lagi’’ kata saya sambil mengeluh
‘’De, kalo mau ke Purwakarta yang enak mending lu naik KA Argo Parahyang yang eksekutif bayarnya Rp90.000, jadi wajar aja namanya juga kereta dengan harga Rp3.000 hahaha’’ Kata Aji sambil tertawa.

            Kami langsung keluar Stasiun untuk membeli tiket KRL, setelah membeli tiket kami langsung menempelkan tiket kami kealat entah namanya apa supaya bisa masuk, ketika si Dwiyan ingin menempelkan tiketnya ternyata tidak bisa setelah dicoba berkali-kali dan ternyata ia menggunakan tiket multi trip, tapi sayangnya di Stasiun ini belum bisa digunakan oleh tiket itu dan terpaksa ia harus kembali lagi ke loket dan membeli yang single trip. Entah kebetulan atau tidak KRL jurusan Bogor pun langsung datang, tidak tega rasanya meninggalkan teman sendirian tapi KRL ini hanya berhenti tidak ada 1 menit, tetapi Dwiyan menuyuruh kami untuk naik duluan dan turun di Stasiun Kemayoran agar bisa bareng lagi.

Saat di dalam KRL Aji merasa ada yang aneh dan ternyata tasnya tertinggal di dalam rangkaian KA Lokal yang habis kami naiki, saat kami sampai di Stasiun Kemayoran kami langsung menuju ruang PPKA Stasiun Kemayoran untuk minta izin kepada PPKA agar segera menelpon masinis KA Lokal, tetapi keretanya sudah sampai terlebih dahulu di Stasiun Jakarta Kota dan akhirnya PPKA Kemayoran menelpon Stasiun Jakarta Kota agar memeriksa tiap rangkaian kereta, si Aji segera member tahu ciri-ciri tasnya tapi sayangnya dari pihak Stasiun Jakarta Kota tidak menemukan apa-apa di dalam rangkaian, Aji mencoba untuk menenangkan diri.

Tak lama kemudian KRL yang dinaiki Dwiyan sampai di Stasiun Kemayoran dan untungnya KRL ini memiliki tujuan akhir Stasiun Jakarta Kota, kami langsung segera naik. Setibanya di Stasiun Jakarta Kota kami langsung berlari menuju rangkaian KA Lokal dan kami menuju ke rangkaian yang kami naiki tadi, setelah diperiksa akhirnya kami dapat bernafas lega, tasnya Aji ternyata tidak hilang.

‘’Wah boong tuh orang katanya gak ada apa – apa di rangkaian’’ kata Aji sambil agak kesal
‘’Ye elah, paling juga males meriksa kan pihak lain tidak bertanggung jawab atas hilanngnya barang penumpang, makanya lu hati-hati kalo naroh barang’’ kata Saya.


Kemudian kami langsung menuju restoran cepat saji untuk mengisi perut yang lapar saat perjalanan, setelah selesai maka kami bergegas pulang ke rumah masing-masing, sungguh pengalaman yang tidak terlupakan pada hari itu. Railfans sejati adalah Railfans yang saling membantu ke sesama Railfans atau orang lain dan menjadikan apa yang sudah terjadi pada hari itu menjadi sebuah pengalaman dari perjalanan Railfans saat hunting.