Railfans
Ya
itulah kami, berawal dari hobi mencintai kereta api kini kami membentuk
komunitas penggemar kereta atau kami biasa menyebutnya, Railfans. Memang, kata itu masih terdengar sangat asing di
kebanyakan orang, kebanyakan orang menilai
buat apa sih kereta doang difoto – foto, kaya gak pernah liat kereta aja alias
norak, biarlah orang menilai apa adanya tapi itulah railfans. Menjadi
Railfans itu adalah kegiatan yang menyenangkan karena dapat menambah teman dan
hampir tiap dua minggu kami hunting ( berburu kereta menggunakan kamera )
seperti yang dilakukan olehku dan beberapa teman Railfansku, seperti Dwiyan ,Aji,
Nanda, Adi, dan Fachri kami berbeda sekolah tetapi kami selalu hunting bersama,
pengalaman hunting yang paling berkesan adalah ketika kami pergi ke Purwakarta.
Kami
berangkat dari rumah masing – masing sekitar pukul 06.30 karena kereta yang
menuju ke Purwakarta berangkat pukul 08.50 dari Stasiun Jakarta Kota saya,
Dwiyan, Aji dan Adi ketemuan di Stasiun Duren Kalibata untuk menuju ke Stasiun
Jakarta Kota menggunakan KRL, kemudian kami turun sejenak di Stasiun Manggarai
untuk ketemuan dengan Fachri yang berangkat dari Stasiun Pal Merah, setelah
semua sudah lengkap kami segera menuju Jakarta Kota dengan naik KRL tapi sayang
KRL yang kami naiki adalah kereta oven, kenapa disebut kereta oven ? keretanya
sangat panas apalagi jika penumpangnya berjubel benar – benar seperti di dalam
oven tapi maklumlah namanya juga KRL tua.
‘’Bro harusnya tadi kita nunggu KRL yang satunya
lagi aja, gila panas banget’’ kata Dwiyan sambil mengusap kringatnya, ‘’ ye
elah udah biarin aja, dari pada ntar ketinggalan kereta di Jakarta Kota’’ kata
saya sambil agak menggetak.
Sesampainya
di Stasiun Jakarta Kota tepatnya pukul 07.33 kami langsung membeli tiket KA Lokal
Purwakarta, cukup dengan harga Rp 3.000 kita sudah dapat menikmati perjalanan
dengan kereta kelas ekonomi ini ke Purwakarta selama 3 jam perjalanan, memang
lama karena kereta ini berhenti di setiap Stasiun, waktu keberangkatan kereta
masih lama jadi kami sempatkan untuk berkeliling Stasiun dulu sambil mengambil
beberapa gambar lewat jepretan kamera, tiba-tiba ada PKD Stasiun yang
mendatangi kami dengan muka yang penuh curiga dan agak kasar.
‘’Dek, sudah
minta izin untuk foto-foto disini ?’’ kata PKD dengan suara yang tegas
‘’Belum pak
kita penumpang KA Lokal, ini keretanya masih lama jadi kita numpang hunting
dulu pak sambil nunggu kereta’’
‘’Bisa liat
tiketnya ?’’ kemudian kami menyerahkan tiket kereta kami ke PKD itu untuk
dilihat.
‘’Oh yaudah,
lain kali kalo foto-foto disini minta izin dulu biar gak saya curigain’’
Kemudian PKD itu pergi dan kembali bertugas, untung kami tidak sampai dibawa ke
ruang Kepala Stasiun karena dicap sebagai orang yang mencurigakan, tapi itulah
satu dari resiko yang diterima saat hunting di kawasan Stasiun.
Jam
menunjukan pukul 08.45 dan kami segara masuk ke dalam kereta, suasana kereta
masih sepi dan adem, lima menit kemudian kereta mulai meninggalkan Stasiun
Jakarta Kota, pukul 09.10 kereta tiba di Stasiun Kemayoran dan suasana kereta
mulai terasa sumpek dengan banyaknya penumpang dan pedagang asongan serta
beberapa pengamen yang naik, sebenarnya pedagang dan pengamen tidak boleh masuk
ke dalam kereta tapi yaaaa….namanya juga kereta rakyat jadi siapa aja bisa
masuk bahkan tanpa tiket. Saat kami sedang menikmati perjalanan kemudian
sekelompok pengamen menuju ke arah kami, dengan suara ukulele yang khas ia
menyanyikan sebuah lagu entah judulnya apa dengan suara agak serak, karena
merasa terganggu dengan kehadiran pengamen itu kami memberikan uang 1000-2000
rupiah.
Diperjalanan
kami disuguhi suasana yang pengap bau penumpang dan para pedagang yang
menawarkan dagangannya, kereta pun berhenti di Stasiun Klari selama 15 menit
dan waktu 15 menit itu amatlah lama bagi sebuah kereta saat berhenti, ini
dikarenakan kereta yang kami naiki harus mengalah atau disusul oleh kereta
jarak jauh lainnya. Kereta Lokal mulai menggerakan rodanya lagi diatas rel yang panas, 20 menit kemudian kereta sampai
di Stasiun Cikampek kemudian kami pergi ke bordes kereta untuk mengambil gambar
sejenak di Stasiun ini, 5 menit kemudian kereta berangkat lagi dan kami tetap
bertahan di bordes sambil menikmati hembusan angin dari pintu kereta yang kami
buka, sebenernya tidak boleh berada di bordes ini apa lagi sampai pintunya
dibuka tapi ya karena ini kereta dengan pengamanan seadanya kami tetap nekat,
sekitar 20 menit kemudian kereta akhirnya sampai di Stasiun Purwakarta, para
penumpang sudah berada di bordes kereta untuk turun dari rangkaian, kereta
belum berhenti dengan sempurna tetapi penumpang yang berada dibelakang saya
sudah tak sabar mau turun alhasil kami terpaksa turun disaat kereta masih
berjalan dan saya tidak berhasil mendarat dengan sempurna di peron stasiun
sehingga saya terjatuh, malu rasanya sampe diliatin orang.
Wah
rasanya senang sekali bisa menginjakan kaki di Stasiun ini, awalnya kami ingin
mengambil beberapa gambar dulu tapi mengingat kereta akan kembali ke Jakarta
dalam 15 menit lagi kami bergegas ke loket untuk membeli tiket, setelah semua
membeli tiket kami menunggu kereta berangkat sambil menyaksikan proses langsir
lokomotif ( pemindahan lokomotif ), dan mengambil beberapa foto lewat jepretan
kamera, ada yang menarik disini dan bisa dijadikan objek foto yang bagus yaitu
beberapa rangkaian KRL dan kereta yang sudah tidak terpakai ditumpuk – tumpuk
di depan Stasiun dan memang itu adalah objek foto yang ingin kami abadikan,
sekitar 3 menit lagi kereta kembali ke Jakarta kami mencoba memastikan semua
tiket sudah siap, tapi teman kami yang bernama Adi ternyata tiketnya belum
diperiksa oleh petugas Stasiun.
‘’Woy di tiket
lu belum periksa ?’’ kata saya sambil agak ngotot
‘’Oh iya gue
lupa eh bentar gue ke sono dulu ya’’ kata Adi sambil agak panik
‘’Cepet woy
bentar lagi mau berangkat’’
Tiba-tiba
PPKA ( Pengatur Perjalanan Kereta Api ) menghampiri kereta dengan membawa
Semboyan 40 ( tongkat untuk menandakan
bahwa kereta siap berangkat ) suasana menjadi tambah panik, kami berusaha minta
izin kepada PPKA untuk menahan sebentar.
‘’Pak teman
kami masih tiketnya masih diperiksa, tahan bentar pak’’ kata Fachri
‘’Wah dek gak
bisa ditahan lagi, kereta harus berangkat tepat sesuai jadwal’’.
Tak lama
kemudian Adi datang sambil berlari dan langsung menghampiri kami
‘’Wah sorry ya
untung cepet ‘’ sambil terengah – engah ia berbicara
‘’Iya – iya
yaudah cepetan langsung naik’’ kata Aji sambil bernafas lega
PPKA
kemudian membunyikan pluit semboyan 41 dan mengangkat semboyan 40 tanda kereta
siap berangkat, dilanjut dengan masinis yang membunyikan S35 atau klakson panjang
untuk merespon PPKA, yap sungguh hal yang membuat kami cukup panik.
Diperjalanan
kami tertidur pulas dengan perut yang kosong dan suasana sumpek yang sama,
kereta pun berhenti di Stasiun Tambun cukup lama. Tiba-tiba suasana berubah
jadi menegangkan kembali, seorang penumpang kecopetan di dalam rangkaian dan si
pecopet berhasil kabur dengan membawa satu buah dompet, penumpang yang lain
awalnya mengejar si pencopet tapi karena larinya yang cepat jadi tidak bisa tertangkap,
kemudian kami dan penumpang lain memeriksa barang bawaan agar tidak terjadi hal
yang sama.
‘’Noh de lu
jangan hunting disini, udah gue bilang disini banyak copetnya’’ kata Dwiyan.
Saya sejak dulu memang ingin mencoba hunting disini, tapi setelah melihat
kejadian ini rasanya jadi ragu . Kereta kembali meneruskan perjalanan dan
setibanya di Stasiun Pasar Senen kami turun dari Kereta dan menunggu KRL
jurusan Bogor.
‘’Wah kapok gue
ke Purwakarta, cuma bentar, keretanya pengap, ada copet lagi’’ kata saya sambil
mengeluh
‘’De, kalo mau
ke Purwakarta yang enak mending lu naik KA Argo Parahyang yang eksekutif
bayarnya Rp90.000, jadi wajar aja namanya juga kereta dengan harga Rp3.000
hahaha’’ Kata Aji sambil tertawa.
Kami
langsung keluar Stasiun untuk membeli tiket KRL, setelah membeli tiket kami
langsung menempelkan tiket kami kealat entah namanya apa supaya bisa masuk,
ketika si Dwiyan ingin menempelkan tiketnya ternyata tidak bisa setelah dicoba
berkali-kali dan ternyata ia menggunakan tiket multi trip, tapi sayangnya di
Stasiun ini belum bisa digunakan oleh tiket itu dan terpaksa ia harus kembali
lagi ke loket dan membeli yang single trip. Entah kebetulan atau tidak KRL
jurusan Bogor pun langsung datang, tidak tega rasanya meninggalkan teman
sendirian tapi KRL ini hanya berhenti tidak ada 1 menit, tetapi Dwiyan
menuyuruh kami untuk naik duluan dan turun di Stasiun Kemayoran agar bisa
bareng lagi.
Saat
di dalam KRL Aji merasa ada yang aneh dan ternyata tasnya tertinggal di dalam
rangkaian KA Lokal yang habis kami naiki, saat kami sampai di Stasiun Kemayoran
kami langsung menuju ruang PPKA Stasiun Kemayoran untuk minta izin kepada PPKA
agar segera menelpon masinis KA Lokal, tetapi keretanya sudah sampai terlebih
dahulu di Stasiun Jakarta Kota dan akhirnya PPKA Kemayoran menelpon Stasiun
Jakarta Kota agar memeriksa tiap rangkaian kereta, si Aji segera member tahu
ciri-ciri tasnya tapi sayangnya dari pihak Stasiun Jakarta Kota tidak menemukan
apa-apa di dalam rangkaian, Aji mencoba untuk menenangkan diri.
Tak
lama kemudian KRL yang dinaiki Dwiyan sampai di Stasiun Kemayoran dan untungnya
KRL ini memiliki tujuan akhir Stasiun Jakarta Kota, kami langsung segera naik.
Setibanya di Stasiun Jakarta Kota kami langsung berlari menuju rangkaian KA
Lokal dan kami menuju ke rangkaian yang kami naiki tadi, setelah diperiksa
akhirnya kami dapat bernafas lega, tasnya Aji ternyata tidak hilang.
‘’Wah boong tuh
orang katanya gak ada apa – apa di rangkaian’’ kata Aji sambil agak kesal
‘’Ye elah,
paling juga males meriksa kan pihak lain tidak bertanggung jawab atas
hilanngnya barang penumpang, makanya lu hati-hati kalo naroh barang’’ kata
Saya.
Kemudian
kami langsung menuju restoran cepat saji untuk mengisi perut yang lapar saat
perjalanan, setelah selesai maka kami bergegas pulang ke rumah masing-masing,
sungguh pengalaman yang tidak terlupakan pada hari itu. Railfans sejati adalah
Railfans yang saling membantu ke sesama Railfans atau orang lain dan menjadikan
apa yang sudah terjadi pada hari itu menjadi sebuah pengalaman dari perjalanan
Railfans saat hunting.